Bahaya Mana? Kuman di Pesawat Terbang atau di Rumah Anda?

Sabtu, 09 Juni 2018


Washington, DC,RAnews.tv- Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Georgia Tech University dan Emory University, Amerika Serikat (AS), menemukan fakta bahwa populasi bakteri (micorbiome) di dalam pesawat yang terbang di ketinggian 30.000 kaki, serupa dengan yang terdapat di rumah dan ruang perkantoran.

Para peneliti menggunakan teknologi pengurutan lanjutan untuk mempelajari bakteri yang ditemukan pada tiga komponen kabin pesawat.

"Penumpang maskapai penerbangan tidak boleh takut oleh cerita-cerita sensasional tentang kuman di pesawat," kata Vicki Stover Hertzberg, seorang profesor di Nell Hodgson Woodruff School of Nursing di Emory University.

"Mereka harus menyadari bahwa mikroba ada di mana-mana, dan bahwa pesawat terbang tidak lebih baik daripada gedung kantor, kereta bawah tanah, rumah atau ruang kelas. Semua lingkungan ini memiliki mikrobiom," lanjut Hertzberg, sebagaimana dikutip dari Daily Mail pada Jumat (8/6/2018).ara peneliti mengamati populasi bakteripada benda-benda yang umum disentuh oleh penumpang selama penerbangan, yakni meja baki, sabuk pengaman gesper dan pegangan pintu toilet.

Mereka menyeka barang-barang itu sebelum dan sesudah sepuluh penerbangan lintas benua, dan juga mengambil sampel udara di bagian belakang kabin.

Pada penerbangan jarak jauh, penumpang menghabiskan setidaknya empat atau lima jam, duduk berdekatan satu sama lain, dan bernapas di atmosfer kering dari udara yang disaring keluar masuk.

Menurut Hertzberg, fakta di atas mendasari munculnya kepercayaan publik bahwa populasi bakteri di kabin pesawat mungkin berbeda dengan populasi di bagian lain dari lingkungan hidup di darat.

"Kami terkejut bahwa apa yang ditemukan sangat mirip dengan temuan peneliti lain di rumah dan kantor. Karakter populasi bakteri tidak jauh berbeda satu sama lain," Kata Howard Weiss, penulis lainya juga merupakan seorang profesor di Sekolah Matematika Georgia Tech.

"Apa yang kami temukan adalah populas bakteri sebagian besar berasal dari interaksi antar kulit dan mulut manusia, serta beberapa bakteri lokal yang menempel di benda-benda mati," lanjutnya menjelaskan.

Dijelaskan oleh peneliti, bahwa setiap pesawat memiliki microbiome sendiri. Tetapi, perbedaan antara kondisi pra-penerbangan dan pasca-penerbangan tidak bervariasi, sehingga mematahkan anggapan bahwa bakteri akan berevolusi di kondisi tekanan udara yang berbeda.

"Temuan bahwa pesawat memiliki microbiome unik mereka seharusnya tidak benar-benar mengejutkan, karena kami telah menjelajahi microbiome unik dari berbagai aktivitas ekstrem, seperti ketika manusia ke pesawat ruang angkasa, dan manusia ke kolam garam di Australia," kata Christopher Dupont, rekan penulis lain dan seorang profesor di Departemen Mikroba dan Genomik Lingkungan di J. Craig Venter Institute.

"Studi ini memiliki implikasi penting bagi standar kebersihan dan sterilisasi di industri penerbangan," pungkas Dupont.



    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)